Minggu, 01 November 2015

PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH SISWA KELAS XI SMK BHINEKA KARAWANG


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pengertian pendidikan sebagai berikut : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Dalam Undang-Undang tersebut dicantumkan juga tentang tujuan
pendidikan nasional sebagai berikut :
Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Usaha dan sekaligus tujuan pendidikan nasional yang menjadikan tugas dari guru agama sebagai pemegang peran utama, menjadi guru dibutuhkan kepribadian yang baik dan berakhlakul karimah, karena guru adalah ujung tombak dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan akhlakul karimah. 
Akhlak guru menjadi contoh teladan bagi siswa, oleh sebab itu haruslah guru berpegang teguh dengan ajaran agama, serta berakhlak mulia, berbudi luhur, dan penyayang kepada siswanya.[1]
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda ;
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang berakhlak paling mulia.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,dan Ahmad)[2]

Ibnu Qayyim menututurkan : “Keseluruhan isi agama Islam merupakan akhlak. Jadi, barang siapa yang akhlaknya lebih luhur daripada dirimu, berarti ia memiliki derajat agama yang lebih daripada dirimu.”
Dari hadits di atas dijelaskan di antara hal yang paling mulia bagi manusia sesudah iman dan ibadah kepada Allah ialah akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Dengan akhlak yang mulia terciptalah kemanusiaan manusia, sehingga jelas perbedaannya dengan hewan.[3]
Profesi guru berperan sebagai pendidik. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberikan contoh, dan membiasakan. Guru juga bertugas :
1.        Wajib menemukan pembawaan yang ada pada siswa dengan berbagai cara seperti wawancara, observasi, pergaulan dan angket.
2.        Berusaha menolong siswa mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang.
3.        Mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakah perkembangan siswa berjalan dengan baik.[4]
Ironisnya, selama ini pelaksanaan pendidikan akhlak masih terbatas hanya pada aspek kognisi untuk pembekalan pengetahuan siswa saja. Hal ini nampak jelas pada proses pembelajaran maupun pada evaluasi pendidikan yang lebih terbatas pada penyerapan pengetahuan. Guru di depan kelas lebih banyak mengajarkan pengetahuan, belum sampai pada menciptakan situasi pendidikan yang mendorong tertanamnya nilai-nilai untuk membentuk akhlak siswa. Padahal sebenarnya tugas guru bukan hanya sebatas itu, akan tetapi ia juga harus dapat memperbaiki pendidikan akhlak yang telah diterima siswa, baik dalam keluarga maupun masyarakat sekitarnya, karena pendidikan akhlak mengandung arti dan peranan penting dalam pembentukan tingkah laku siswa. Sebab dalam pendidikan akhlak ini siswa tidak hanya diarahkan kepada kebahagiaan di dunia saja, melainkan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat juga. Tugas tersebut merupakan kewajiban utama guru, karena ajaran agama Islam membimbing manusia agar memperbaiki akhlak diri pribadi dan masyarakatnya. Lingkungan masyarakat yang rusak agar serta diubah akhlaknya, sehingga perbuatan dan perilakunya baik.
Dewasa ini telah terjadinya dekadensi akhlak dikalangan siswa di sekolah-sekolah termasuk siswa siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang, yang mengakibatkan pelanggaran-pelanggaran moral sering terjadi dan banyak ditemukan diantaranya : tata kesopanan peserta didik yang kurang dan perilakunya tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berlaku di sekolah. Seperti melecehkan gurunya, berkata buruk, mencela, mengejek dan melawan guru (fisik ataupun non fisik), melanggar disiplin sekolah, merokok, berambut gondrong, membolos, berkelahi, pacaran, tawuran antar sekolah, dan tindakan-tindakan yang bersifat kriminalitas lainya. Oleh sebab itu perlunya peran aktif dari sebagian kalangan terkait, untuk bersama-sama mengentaskan problematika akhlak siswa, tentunya dalam hal ini guru dituntut lebih berperan ekstra dalam proses pembentukan akhlak siswa agar mereka tidak terperangkap dalam jurang bencana yang teramat dalam, ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina.[5]
Masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras yang sungguh-sungguh.
Salah satu peran guru khususnya di lingkungan sekolah, terutama guru agama adalah memberikan contoh dan teladan yang baik kepada siswanya. Contohnya dalam hal memberikan pelajaran kepada siswa, sikap guru yang baik dalam menyampaikannya yang baik tentu akan membuat siswa nyaman dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kenyaman tersebut memberikan efek positif, misalnya siswa mudah menangkap pelajaran, siswa tidak bosan dengan penyampaian guru, atau siswa akrab dengan guru. Sebaliknya sikap dan cara penyampaian guru yang tidak baik, tidak ramah, bermuka masam bahkan marah-marah tentu akan mengganggu proses pembelajaran siswa, terlebih lagi guru menjadi tidak berwibawa, dibenci dan dijatuhkan, maka sikap dan penyampaian seorang guru sangat berpengaruh pada proses pembelajaran dan pembentukan akhlak siswa.
Bedasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk meneliti dan membahas masalah akhlak tersebut di dalam skripsi dengan judul : “PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH SISWA KELAS XI SMK BHINEKA KARAWANG

B.   Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis dapat mengindentifikasikan beberapa masalah yang terdapat pada judul di atas, antara lain :
1.        Aspek tujuan pembelajaran Akhlak belum tercapai secara afektif dan psikomotorik, tetapi masih terkonsentrasi pada aspek kognitif.
2.        Belum optimalnya pembelajaran budaya Islami di lingkungan sekolah.
3.        Masih ditemukan beberapa pelanggaran moral di kalangan siswa.

C.     Pembatasan Masalah
Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan permasalahan yang terlalu meluas maka permasalahan dalam penelitian ini penulis batasi sebagai berikut :
1.        Peran yang dilakukan Guru PAI dalam membentuk Akhlakul karimah yaitu kegiatan belajar mengajar siswa di kelas.
2.        Pembentukan Akhlakul karimah siswa meliputi :
a.         Akhlak terhadap guru
b.        Akhlak terhadap teman
3.         Faktor penunjang dan penghambat dalam penerapan akhlak siswa yaitu tidak semua orang tua mengerti tentang pentingnya pendidikan.
Batasan masalah ini lebih kepada peran guru dalam membentukan akhlakul karimah siswa  kelas XI SMK Bhineka Karawang.

D.     Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas dan untuk memfokuskan kajian permasalahan dalam skripsi ini penulis membatasi permasalahannya adalah :
1.        Bagaimana peran yang dilakukan Guru PAIdalam membentuk Akhlakul Karimah siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang ?
2.        Apa saja faktor penunjang dan penghambat dalam penerapan Akhlak siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang ?
3.        Bagaimana hasil dari peran Guru PAIdalam membentuk Akhlakul karimah siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang ?

E.     Tujuan Penulisan
1.         Tujuan dari penulisan  adalah sebagai berikut :
a.         Mengetahui peran Guru PAIdalam membentuk akhlakul karimah siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang.
b.        Mengetahui faktor penunjang dan penghambat dalam penerapan Akhlak siswa kelas XI SMK Bhineka Karawang.
c.         Mengetahui hasil dari upaya yang dilakukan Guru PAI dalam membentuk akhlakul karimah siswa kls XI SMK Bhineka Karawang.

F.    Signifikasi penulisan
a.         Diharapkan skripsi ini dapat memberikan dorongan kepada semua lembaga-lembaga pendidikan untuk memberikan perhatian kepada mata pelajaran PAI khususnya tentang akhlakul karimah.
b.        Untuk memberikan wawasan kepada pembaca dan sebagai bahan rujukan mereka yang ingin membahas topik yang berkaitan dengan masalah ini.
c.         Menambah wawasan Guru PAI dalam membentuk akhlakul karimah siswa.
d.        Sebagai bahan sumbangan pemikiran dalam rangka turut serta dalam mempersiapkan generasi yang memiliki pribadi yang berpola fikir islami, berakhlakul karimah dan berguna untuk agama, nusa dan bangsa.

G.    Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari lima bab dan tiap-tiap bab dibagi atas beberapa bagian di antaranya :
Bab  I          : Merupakan pendahuluan yang memuat tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, dan perumusan masalah, tujuan dan signifikasi (kebermaknaan) penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab  II         : Merupakan landasan teori yang memuat tentang deskripsi teori, kerangka berfikir, dan hipotesis.
Bab  III       : Merupakan kerangka metodologis yang meliputi populasi sampel dan teknik pengumpulan data, teknik analisa data.
Bab  IV       : Merupakan hasil dari penelitian, yang terdiri dari deskripsi institusi, deskripsi, karakteristik, responden, penyajian analisa data, interpetasi hasil penelitian.
Bab  V         : Merupakan penutup yang meliputi tentang kesimpulan dan rekomendasi.



[1]  Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta : Hidakarya Agung, 1983), cet 11, h. 15
[2] Mahmud Al Mishri, Ensiklopedia Akhlak Muhammad saw, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2009), h.31
[3] Sudirman Tebba, Manusia Malaikat, (Yogyakarta : Cangkir Geding, 2005), cet. 1, h. 67
[4] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosda karya, 2001), cet . 4, h. 79
[5] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), cet 5, h.157